(ciri ciri)Sistem Politik Otoriter

28 Mar

Sistem politik di dunia ada berbagai macam. Mulai sistem kolektivisme, komunisme, konservatisme, fasisme, imperialisme, monarki, pluralisme, dan sebagainya. Tiap-tiap sistem politik tersebut mengusung ideologi dan ciri khas masing-masing. Salah satu sistem politik yang menarik untuk dibahas adalah sistem politik autokrasi atau dikenal sebagai sistem politik otoriter.

Sistem politik otoriter adalah sistem yang dipimpin seorang diktator. Di dalam sistem pemerintahan otoriter, segala bentuk perintah dan peraturan datang dari satu sumber. Sekilas, definisi ini akan mirip dengan definisi sistem politik monarki atau kerajaan. Akan tetapi, kedua sistem ini memiliki perbedaan.

Sistem politik monarki atau kerajaan di masa lalu banyak yang melimpahkan kekuasaan mutlak kepada raja atau ratu yang berkuasa. Kekuasaan itu tidak terbatas sehingga raja atau ratu dapat berbuat sekehendak hati terhadap negara yang dipimpinnnya. Monarki semacam itu memang tidak salah jika disebut monarki yang bersifat autokrasi atau kediktatoran atau otoriter.

Monarki semacam ini, di masa modern, diistilahkan sebagai sistem monarki absolut. Sistem politik autokrasi atau otoriter cenderung diasosiasikan kepada sistem politik yang bukan monarki karena sistem monarki yang bersifat autokrasi sudah memiliki istilahnya sendiri, monarki absolut.

Sistem politik otoriter lebih diasosiasikan kepada suatu rezim pemerintahan yang dipimpin oleh seseorang dengan kontrol penuh atau nyaris penuh terhadap negaranya. Baik dia seorang presiden, perdana menteri, maupun pejabat penting lain. Apabila dengan jelas mengendalikan segala bentuk kegiatan pemerintahan dan kenegaraannya, dia disebut sebagai diktator.

Dengan demikian, otomatis negara yang dipimpinnya pun akan disebut bersistem politik autokrasi atau otoriter.

 

Ciri-Ciri Sistem Politik Otoriter

 

Theodore M. Vestal dari Oklahoma State University, Amerika Serikat, dalam bukunya Ethiopia: A Post-Cold War African State, menuliskan beberapa ciri pemerintahan dengan sistem politik otoriter.

  1. Infrastruktur dan fasilitas pemerintahan dikendalikan secara terpusat. Kekuatan politik diperoleh dan dipertahankan melalui suatu sistem represif yang menentang segala bentuk tentangan atau yang berpotensi menentang. Partai politik dan organisasi-organisasi masyarakat digunakan sebagai alat untuk memobilisasi masyarakat dalam rangka pemenuhan tujuan pemerintah.
  2. Mengikuti prinsip-prinsip berikut: (a) aturan datang dari seseorang, bukan dari hukum; (b) pemilihan umum bersifat kaku (seringkali orang bisa mengetahui siapa pemenangnya, bahkan sebelum pemilu itu berlangsung); (c) semua keputusan politis ditentukan oleh satu pihak dan berlangsung tertutup; dan (d) penggunaan kekuatan politik yang seolah-olah tidak terbatas.
  3. Pemimpin dipilih sendiri atau menyatakan diri. Kalaupun ada pemilihan, hak kebebasan masyarakat untuk memilih cenderung tidak diacuhkan.
  4. Tidak ada jaminan kebebasan sipil, apalagi toleransi bagi yang ingin menjadi oposisi.
  5. Tidak ada kebebasan untuk membentuk suatu kelompok, organisasi, atau partai politik untuk bersaing dengan kekuatan politik yang incumbent.
  6. Kestabilan politik dipertahankan melalui: (a) kontrol penuh terhadap dukungan pihak militer untuk mempertahankan keamanan sistem dan kontrol terhadap masyarakat; (b) birokrasi dikuasai oleh orang-orang yang mendukung rezim; (c) kendali terhadap oposisi dari internal negara; dan (d) pemaksaan kepatuhan kepada publik melalui berbagai cara sosialisasi.

Selain ciri-ciri tersebut, ciri paling khas sistem politik otoriter adalah kekuasaan politik yang tidak terbatas atau nyaris tidak terbatas dimiliki oleh si pemimpin atau partai yang berkuasa.

Otoriterisme dan Totalitarisme

Totalitarisme adalah versi ekstrem dari sistem otoriterisme. Berdasarkan karya ilmiah ilmuwan politik Juan Linz, Paul C. Sondrol, seorang pengamat politik dari University of Colorado, Amerika Serikat, membandingkan antara keduanya.

Sistem totalitarianisme dinilai memiliki karisma kepemimpinan yang tinggi dibanding sistem otoritarianisme. Dalam hal peran kepemimpinan, sistem totalitarianisme menjalankannya sesuai fungsi, berbeda dengan sistem otoritarianisme yang menjalankannya secara pribadi.

Perbedaan di antara keduanya pun tidak berhenti sampai di situ. Perbedaan yang lain menyangkut pengakhiran masa kepemimpinan, tingkat korupsi, ideologi resmi kepemimpinan, serta legitimasi. Keseluruhan penilaian tersebut menunjukkan bahwa sistem totalitarianisme jauh lebih baik dibanding sistem otoritarianisme

Satu Tanggapan to “(ciri ciri)Sistem Politik Otoriter”

  1. putri Desember 4, 2013 at 14:34 +00:00Des #

    tinggalkan sistem pemerintahan otoriter,,,
    hidup Indonesia…

    http://fazriamardyanaputri.ipb.ac.id/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: